dakwatuna.com – Entah seberapa luaskah kesabaran
yang dimiliki Ibu. Di balik dukanya selalu tersimpul seulas senyuman
yang mengagumkan. Tak pernah sekalipun kudengar ungkapan keluh kesah
dalam setiap ujian hidup yang menderanya. Ibu bagiku adalah seorang
perempuan perkasa melebihi siapa pun.
Masih terekam jelas dalam
memoriku, saat Bapak dengan terang-terangan mengatakan memiliki
perempuan lain di luar sana. Waktu itu aku masih terlalu dini untuk bisa
memahami semuanya. Tapi usiaku yang baru menginjak 7 tahun dapat
merasakan bahwa itu adalah sesuatu yang menyakitkan bagi Ibu. Apakah Ibu
menangis? Tidak, yang kulihat justru seulas senyum yang begitu tulus.
Indahnya senyum Ibu tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Aku
semakin kagum melihat kebesaran jiwa Ibu yang dengan ikhlas melepaskan
Bapak untuk perempuan lain. Tak ada sepatah kata pun, suara makian atau
pun celaan untuk Bapak dan perempuan simpanannya itu, yang keluar dari
lisan Ibu. Padahal saat itu aku merasa sangat benci sekali pada Bapak
dan ingin sekali menghardiknya.
Setelah ditinggalkan Bapak, Ibu
lah satu-satunya orang yang menjadi tumpuan hidupku. Ibu rela bekerja
apa saja untuk menghidupiku, agar sesuap nasi tetap bisa masuk dalam
perut kami dan agar aku tetap bisa bersekolah. Suatu waktu Ibu bekerja
sebagai buruh tani, di waktu yang lain Ibu bekerja sebagai buruh cuci
atau pedagang asongan.
Saat aku lulus SMA kusampaikan hasratku
untuk melanjutkan kuliah ke luar kota. Lagi-lagi dengan anggukan yang
begitu mantap dan seulas senyuman yang lebar, Ibu merestui keinginanku
dengan sepenuh hati. Padahal aku tahu untuk makan sehari-hari, Ibu harus
bekerja keras, banting tulang siang dan malam. Tega kah aku menambah
beban Ibu dengan biaya kuliah yang tak sedikit, dan tega pula kah aku
meninggalkan Ibu seorang diri di rumah ini? Tapi ketika Ibu melihat
guratan keraguan di wajahku, Ibu justru menguatkanku dengan nasihatnya
yang menyejukkan qolbu.
“Pergilah Nak! Tak usah kau risaukan soal
rezeki, Allah itu ada. Dia tak akan mungkin membiarkan hamba-Nya
berjuang sendirian, tanpa mengulurkan tangan-Nya untuk membantu kita.
Bila tekadmu telah kuat percaya lah, bahwa pertolongan Allah itu teramat
dekat. Hanya satu pesan Ibu, belajarlah dengan sungguh-sungguh, kuliah
bukan hanya untuk mencari gelar atau kebutuhan mental. Tetapi yang jauh
lebih penting dari itu, kuliah adalah tempat untuk meningkatkan amal,
untuk bisa mengajarkan, untuk bisa berbagi dan memenuhi kebutuhan
spiritual. Jangan sampai kita meninggal tanpa nama dan ilmumu sia-sia
lantaran hanya karena tujuan dunia. Kejernihan hati dan budi pekerti
yang luhur menjadi benteng dalam mengarungi bahtera kehidupan ini.
Perintah Allah dan teladan dari Rasul-Nya menjadi pelita dan pedoman
dalam setiap langkah kita. Jika engkau bersabar dengan dirimu sendiri
itu adalah sebuah keanggunan, jika engkau bersabar terhadap orang lain
itu adalah sebuah kebesaran dan jika engkau bersabar terhadap kehidupan
itu adalah kekuatan iman. Kesabaran adalah kesetiaan untuk tetap
berprasangka baik kepada Allah, walaupun itu terasa berat. Jangan pernah
gentar Nak dalam menghadapi kehidupan ini, karena di balik setiap
kesulitan yang menimpa, selalu ada Allah yang maha penolong.”
Dengan
berbekal nasihat dari Ibu, dengan langkah mantab aku pun pergi
meninggalkan kampung halaman ke negeri rantau. Ya, memang tak sepatutnya
aku takut dalam menghadapi hidup ini. Suka dan duka dalam kehidupan
adalah sebuah keniscayaan dan itulah fitrah dari sebuah perjuangan.
Ibu
adalah sosok wanita yang selalu menginspirasiku. Setiap kali kujumpai
kesulitan di tanah rantau, selalu saja kuingat wajah Ibu, ketegarannya,
kesabarannya dalam menjalani hidup, dan seuntai nasihatnya yang
diberikan ketika aku hendak pergi. Itulah yang selalu menguatkanku
setiap kali ada badai yang menyapa.
Alhamdulillah, sambil kuliah
aku pun bekerja sebagai karyawan sebuah toko. Walaupun dengan gaji yang
tak seberapa, namun bagiku cukuplah untuk meringankan sedikit dari beban
Ibu. Paling tidak untuk biaya kebutuhan sehari-hari aku tidak terlalu
bergantung lagi pada Ibu, dan mencari pinjaman ke sana – ke mari saat
kiriman Ibu belum datang. Tapi jadwal kunjunganku untuk pulang semakin
berkurang. Ya, karena tuntutan kerja, mau tak mau aku harus mematuhi
peraturan yang ada. Jadwal pulang yang setahun hanya dua kali cukup
membuncahkan rasa kangen yang luar biasa pada Ibu.
Ketika jadwal
pulang tiba, dengan bergegas dan penuh suka cita aku menyambutnya. 3
hari sebelum pulang, telah kupersiapkan barang-barang yang hendak kubawa
pulang. Tak lupa pula kubawakan oleh-oleh untuk Ibu. Ya walaupun
sederhana, tetapi aku bahagia bisa memberi sesuatu untuk Ibu.
Begitu
sampai di rumah, aku segera menghambur dalam pelukan Ibu, tersungkur
bersujud di bawah telapak kakinya. Kulihat guratan di wajah Ibu yang
semakin menua, tangannya yang semakin kasar serta kakinya yang bengkak
dan pecah-pecah. Itu menandakan betapa kerasnya Ibu bekerja untuk
menghidupiku selama ini. Aku ingin menangis ketika melihat itu, tapi
lagi-lagi Ibu selalu tersenyum dan berkata.
“Keluh kesah adalah
pantangan terbesar dalam menjalani kehidupan ini. Jadikan selalu
kesabaran sebagai senjata utama, karena Allah senantiasa bersama
orang-orang yang sabar.”
Waktu tiga hari kepulanganku, terasa
begitu singkat. Rasanya belum puas kutumpahkan rasa rinduku pada Ibu.
Tapi aku harus kembali ke negri rantau, melanjutkan perjuangan, belajar
dan bekerja guna menggapai masa depan yang gemilang. Agar aku dapat
membahagiakan Ibu selalu.
Sebelum berangkat kuserahkan sebuah baju
sederhana itu pada Ibu, juga sebuah amplop berisi uang gajiku bulan
ini. Rasa iba melihat keadaan Ibu yang semakin lemah mendorongku untuk
menyerahkan semua uang gajiku yang tak seberapa itu. Agar Ibu dapat
beristirahat lebih banyak, dan membeli vitamin untuk kesehatan tubuhnya.
Mengenai bagaimana biaya hidupku untuk bulan ini, tak terlalu
kurisaukan. Bagiku Ibu adalah segalanya, Ibu yang telah mengajari arti
sebuah kesabaran dalam menjalani kehidupan. Toh ada Allah yang menjamin
rezeki setiap makhluk-Nya. Semut yang sekecil itu saja selalu Allah
jamin rezekinya, apalagi seorang manusia yang sedang belajar arti sebuah
kesabaran.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya ia
akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah
yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada
Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya
Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah
mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Bukankah janji Allah itu benar???
Sabtu, 28 April 2012
06.24
No comments







0 komentar:
Posting Komentar